Stok Semikonduktor Mengetat, Mobil Baru Bergantung pada Banyak Chip untuk Produksi

Mobil-mobil baru saat ini semakin membutuhkan semikonduktor untuk mengoperasikan berbagai sistem elektronik yang ada di dalamnya, mulai dari sistem keselamatan hingga penggerak mobil listrik. Di tengah meningkatnya kebutuhan akan chip ini, pasokan semikonduktor untuk sektor otomotif mulai mengalami pengetatan, dengan waktu tunggu untuk komponen yang kembali meningkat.
Menurut data yang diperoleh dari TechInsights, rata-rata waktu tunggu atau lead time untuk semikonduktor di industri otomotif mencapai 16,8 minggu pada kuartal pertama 2026. Angka ini mengalami kenaikan hampir 2,5 minggu dibandingkan kuartal sebelumnya. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh waktu tunggu yang lebih lama untuk perangkat daya, memori, komponen perlindungan sirkuit, dan semikonduktor diskrit.
Tekanan terhadap pasokan juga terlihat pada semikonduktor memori yang digunakan dalam kendaraan. TechInsights mencatat bahwa produsen masih mengalihkan sebagian kapasitas DRAM dan NAND untuk memenuhi permintaan dari industri AI dan memori berkecepatan tinggi, sehingga pasokan memori untuk sektor otomotif tetap terbatas.
Kondisi ini semakin menjadi perhatian karena konten elektronik dalam kendaraan semakin meningkat. Semikonduktor digunakan dalam berbagai komponen, termasuk electronic control unit (ECU), sistem bantuan pengemudi (ADAS), kamera dan sensor, sistem infotainment, konektivitas, serta berbagai perangkat keselamatan yang ada di dalam mobil.
Dalam mobil listrik, kebutuhan akan semikonduktor semakin bertambah dengan adanya sistem manajemen baterai (BMS), inverter, pengisi daya on-board, serta sistem pengendalian motor listrik. Perkembangan arsitektur kendaraan juga mendorong penggunaan domain controller, arsitektur zonal, dan sistem komputasi berperforma tinggi.
Masalah dalam rantai pasokan semikonduktor ini sejalan dengan perhatian pemerintah Indonesia terhadap kemajuan teknologi di industri otomotif. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menekankan bahwa daya saing industri memerlukan penguasaan teknologi yang baik, penguatan sumber daya manusia, serta ekosistem rantai pasokan yang kokoh.
Pernyataan ini disampaikan oleh Susiwijono dalam acara Business Discussion Lunch di Nagoya pada tanggal 19 September 2026, yang dihadiri oleh pelaku industri otomotif nasional dan mitra dari Jepang. Dalam acara tersebut, Susiwijono didampingi oleh Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian, Ali Murtopo Simbolon.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian juga mengungkapkan bahwa pemerintah sedang membuka jalan bagi sektor-sektor pertumbuhan baru, terutama di bidang AI dan semikonduktor, melalui kerja sama internasional. Indonesia telah menjalin kerjasama dengan ARM, menjadi anggota WAICO, serta menjalin komunikasi dengan PAX Silica untuk memperkuat posisi dalam industri semikonduktor.
➡️ Baca Juga: HUT ke-17 KAI Logistik Tawarkan Tarif Spesial untuk Layanan Pengiriman Line
➡️ Baca Juga: Strategi Efektif Mengatur Pola Makan Seimbang untuk Menstabilkan Metabolisme Tubuh




