Motor Bensin Dominan, Namun Motor Listrik Memiliki Tantangan yang Harus Diselesaikan

Jakarta – Transisi menuju kendaraan listrik tidak berarti bahwa industri sepeda motor akan sepenuhnya meninggalkan mesin berbasis bensin. Di tengah meningkatnya popularitas motor listrik di pasar Indonesia, produsen masih menganggap mesin pembakaran internal (ICE) sebagai teknologi krusial yang diperlukan untuk memenuhi permintaan mobilitas masyarakat.
Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Yosef Utama, menekankan bahwa industri sepeda motor perlu mengadopsi lebih dari satu jenis teknologi untuk menjawab perubahan kebutuhan konsumen. Menurutnya, pendekatan multi-teknologi masih menjadi solusi yang tepat karena setiap teknologi memiliki karakteristik unik dan segmen pasarnya masing-masing.
“Kita meyakini bahwa solusi mobilitas tidak hanya berasal dari satu sumber, melainkan melalui pendekatan multi-teknologi,” ungkap Yosef dalam sebuah pernyataan di Jakarta baru-baru ini.
Ia menambahkan bahwa pengembangan motor berbahan bakar bensin masih terus dilakukan, terutama untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar. Teknologi ini dianggap tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat yang mencari kendaraan praktis untuk aktivitas sehari-hari.
Selain fokus pada mesin bensin, industri juga mulai menjajaki kemungkinan penggunaan bahan bakar alternatif. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan biofuel yang dicampur dengan etanol, yang memiliki potensi untuk dikembangkan secara bertahap.
“Di sini, kita melihat motor ICE yang semakin efisien, yang kita sebut sebagai teknologi efisiensi bahan bakar. Selain itu, ada juga pengembangan teknologi biofuel. Misalnya, penggunaan etanol dalam berbagai rasio seperti E5, E10, E20, hingga E50 di masa depan,” jelas Yosef.
Di sisi lain, kendaraan listrik tetap menjadi bagian integral dari pengembangan industri sepeda motor. Namun, penerimaan motor listrik di segmen roda dua dianggap masih memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan kendaraan listrik roda empat.
Yosef menyatakan bahwa kontribusi motor listrik saat ini hanya berkisar antara 1-2 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa penggunaan teknologi elektrifikasi dalam sepeda motor masih memiliki banyak ruang untuk tumbuh.
Meskipun demikian, ada beberapa tantangan yang perlu diatasi agar motor listrik dapat diterima dengan lebih luas oleh konsumen. Hal-hal tersebut mencakup performa kendaraan, jarak tempuh, waktu pengisian baterai, hingga daya tahan baterai atau State of Health (SOH).
Industri juga harus memastikan bahwa konsumen merasa aman dan nyaman saat menggunakan motor listrik. Ini termasuk pengembangan ekosistem pendukung yang memadai dan menjaga nilai jual kembali kendaraan agar tetap stabil.
➡️ Baca Juga: Karangan Bunga Membanjiri Rumah Duka Pengacara Hotma Sitompul
➡️ Baca Juga: Panduan Lengkap Memilih Speaker Pintar Terbaik 2026 untuk Kebutuhan Rumah Anda




