Strategi UMKM untuk Menembus Pasar Ekspor Secara Efektif dan Berkelanjutan

Jakarta – Para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus melakukan transformasi pola pikir ketika ingin menembus pasar ekspor. Memiliki produk berkualitas tinggi saja tidak menjamin keberhasilan di pasar internasional, apabila tidak didukung oleh pemahaman yang mendalam tentang regulasi dan kebutuhan pasar di negara tujuan ekspor.
Dede Saputra, Fasilitator Ekspor dari Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP), menjelaskan bahwa pengusaha UMKM sebaiknya beralih dari pendekatan yang berfokus pada produk (product centric) menuju pendekatan yang mengutamakan kebutuhan pembeli (buyer centric) di negara tujuan ekspor.
“Memiliki produk yang baik tidaklah cukup. Pembeli tidak hanya mempertimbangkan produk itu sendiri, tetapi juga aspek keberlanjutan dan kepatuhan terhadap regulasi di negara mereka. Oleh karena itu, pengusaha UMKM harus memahami bagaimana negara tujuan ekspor melakukan seleksi dalam memilih pemasok,” ungkap Dede di Jakarta pada Selasa, 6 Oktober 2026.
Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam sesi Export Bootcamp, bagian dari rangkaian kegiatan Bootcamp UMKM Untuk Indonesia (UUI) 2026: Kita Mau Kita Bisa, Menembus Batas Membuka Pasar Global.
Acara ini diorganisir oleh Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) sebagai bagian dari program keberlanjutan “Sampoerna untuk Indonesia” dan dihadiri oleh lebih dari 180 UMKM dari berbagai daerah di Indonesia.
Dede, yang juga merupakan Tenaga Ahli di Kementerian Perdagangan (Kemendag), menekankan bahwa terdapat tiga pilar penting yang menjadi pertimbangan bagi pembeli dalam memilih pemasok, khususnya dalam skema Business-to-Business (B2B).
Pertama, kepatuhan terhadap regulasi dan sertifikasi. Menurutnya, pembeli internasional cenderung melakukan mitigasi risiko, seperti barang yang tertahan di bea cukai atau pemanggilan kembali produk. Oleh karena itu, pengusaha UMKM harus memastikan produk mereka memenuhi standar kualitas dan memenuhi berbagai syarat sertifikasi yang berlaku di negara tujuan ekspor.
Sebagai contoh, untuk mengekspor produk pangan ke pasar China, pengusaha UMKM diwajibkan memiliki sertifikat dari General Administration of Customs of the People’s Republic of China (GACC). Sementara itu, untuk memasuki pasar Amerika Serikat, produk harus memenuhi standar yang ditetapkan oleh Food and Drug Administration (FDA).
Kedua, pengusaha UMKM perlu memperhatikan keandalan pasokan produk. Aspek ini berkaitan dengan jaminan ketersediaan stok, kepatuhan terhadap standar operasional perusahaan (SOP), serta konsistensi dalam kualitas produk yang ditawarkan.
Keandalan pasokan menjadi kunci untuk membangun kepercayaan dengan pembeli, karena mereka harus yakin bahwa produk yang mereka pesan akan tersedia sesuai dengan waktu yang disepakati dan dalam kondisi yang optimal.
Ketiga, aspek keberlanjutan juga semakin menjadi pertimbangan penting dalam proses pemilihan pemasok. Pembeli saat ini lebih cenderung memilih pemasok yang memiliki komitmen terhadap praktik bisnis yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Menerapkan strategi keberlanjutan dalam operasional UMKM tidak hanya dapat meningkatkan daya tarik produk di pasar internasional, tetapi juga dapat berkontribusi pada peningkatan citra merek di mata konsumen global yang semakin sadar akan isu lingkungan.
Dengan menerapkan pendekatan yang lebih berfokus pada kebutuhan pembeli dan memenuhi semua regulasi yang berlaku, UMKM memiliki peluang lebih besar untuk berhasil dalam pasar ekspor. Transformasi ini bukan hanya tentang menjual produk, tetapi juga tentang membangun hubungan yang kuat dan berkelanjutan dengan pembeli di luar negeri.
Kunci untuk mencapai keberhasilan di pasar internasional adalah dengan membangun kepercayaan. Oleh karena itu, UMKM perlu berinvestasi dalam proses yang memastikan bahwa semua aspek kualitas produk, kepatuhan regulasi, dan keberlanjutan selalu terjaga.
Dengan strategi yang tepat, UMKM dapat memanfaatkan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang di pasar global yang penuh tantangan namun menawarkan potensi yang sangat besar.
➡️ Baca Juga: Wamenaker: Industri Tekstil Harus Bangkit, Saatnya Aksi Nyata
➡️ Baca Juga: Pemerintah Resmi Tetapkan WFH ASN Setiap Jumat untuk Efisiensi Kerja




