Pertimbangkan Lagi Sebelum Resign untuk Gaji Lebih Tinggi, Keuntungannya Semakin Menipis

Pindah pekerjaan selama bertahun-tahun telah menjadi salah satu strategi yang umum digunakan oleh karyawan untuk meningkatkan penghasilan mereka. Namun, saat ini, keuntungan finansial yang didapat dari berpindah perusahaan mulai menyusut, terutama dengan adanya tantangan di pasar tenaga kerja yang semakin sulit dihadapi oleh para pencari kerja.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Amerika Serikat. Data dari Bank of America Institute menunjukkan bahwa pada tahun 2022, pekerja yang mengalami perpindahan perusahaan rata-rata mengalami kenaikan pendapatan setelah pajak hampir 18 persen dalam setahun. Di sisi lain, pekerja yang tetap berada di perusahaan yang sama hanya mencatatkan peningkatan sekitar 7 persen.
Namun, situasi ini berubah drastis pada awal tahun 2026. Pada kuartal pertama 2026, pertumbuhan pendapatan bagi pekerja yang beralih perusahaan hanya mencapai sekitar 8 persen, sementara mereka yang tetap di tempat kerja yang sama memperoleh kenaikan sekitar 5 persen. Selisih dalam pertumbuhan pendapatan antara kedua kelompok ini menjadi yang terendah dalam tujuh tahun terakhir.
Penurunan keuntungan dari berpindah pekerjaan ini terjadi bersamaan dengan rendahnya tingkat pengunduran diri di kalangan pekerja. Data dari Bureau of Labor Statistics menunjukkan bahwa hanya 1,9 persen pekerja nonpertanian yang memilih untuk mengundurkan diri pada bulan Agustus. Angka ini menunjukkan bahwa tingkat pengunduran diri berada pada level terendah sejak tahun 2020.
Kondisi pasar tenaga kerja saat ini bisa disebut sebagai pasar “low-hire, low-fire,” di mana perusahaan cenderung lebih berhati-hati dalam merekrut karyawan baru dan tidak banyak melakukan pemutusan hubungan kerja. Ketidakpastian ekonomi membuat perusahaan lebih memilih untuk menahan penambahan tenaga kerja, sehingga posisi tawar perusahaan menjadi lebih kuat.
Di tengah situasi ini, perusahaan tampaknya memiliki semakin sedikit alasan untuk menawarkan kenaikan gaji yang signifikan demi menarik karyawan baru. Di sisi lain, para pekerja yang merasa khawatir akan kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan baru lebih memilih untuk bertahan di posisi mereka, sebuah fenomena yang dikenal sebagai “job-hugging”.
Keadaan ini sangat berbeda dibandingkan dengan periode Great Resignation yang terjadi pada tahun 2021 dan 2022. Pada waktu itu, jutaan pekerja di Amerika Serikat memilih untuk meninggalkan pekerjaan mereka demi mengejar gaji yang lebih tinggi dan kondisi kerja yang lebih baik.
Di samping itu, peluang untuk mendapatkan pengalaman dari berpindah perusahaan juga semakin penting. Penelitian terbaru dari National Bureau of Economic Research menunjukkan bahwa pengalaman lintas perusahaan semakin diperlukan untuk mencapai posisi puncak. CEO yang baru diangkat saat ini rata-rata memiliki sekitar 10 tahun pengalaman lebih banyak di luar perusahaan yang mereka pimpin, dibandingkan dengan CEO yang menjabat pada tahun 2000.
➡️ Baca Juga: Arab Saudi Kurangi Harga Minyak ke Pasar Asia, Terendah Sejak 2020
➡️ Baca Juga: Dalwa Pasuruan: Berita Terbaru dan Informasi Terkini




