BGN Mengganti Kepala SPPG di Batang Setelah Ratusan Orang Terkena Keracunan MBG

Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) telah memastikan bahwa penerima manfaat dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Batang, Jawa Tengah, yang mengalami gangguan kesehatan akibat konsumsi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batang, mendapatkan penanganan yang optimal di fasilitas kesehatan setempat.
Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, menekankan bahwa keselamatan penerima manfaat merupakan prioritas utama lembaga ini. Ia menegaskan bahwa setiap insiden yang dapat mengancam keamanan pangan akan segera ditangani secara serius.
“Dengan penuh empati, kami menyampaikan keprihatinan kami kepada semua penerima manfaat dan keluarga yang terdampak. Kami berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap individu yang terpengaruh mendapatkan perawatan yang memadai dan kondisi mereka terus dipantau,” ungkap Ketut Sumedana di Jakarta pada Jumat, 25 September 2026.
Melalui laporan yang diterima, hingga Kamis, 24 September pukul 03.00 WIB, tercatat ada 219 orang yang mengalami dampak, dengan rincian 132 orang dirawat di rumah sakit dan 87 orang berobat jalan di tujuh fasilitas kesehatan. Data ini akan terus diperbarui sesuai dengan hasil pendataan dan koordinasi yang dilakukan di lapangan.
Sebagai langkah mitigasi, SPPG Batang Bawang Bawang telah dihentikan sementara dengan status penangguhan berat, yang akan diinvestigasi lebih lanjut. BGN juga telah mengambil tindakan tegas dengan mencopot Kepala SPPG Batang Bawang Bawang dari jabatannya.
“Kami telah melakukan penangguhan yang serius dan mencopot Kepala SPPG Bawang. Hal ini disebabkan adanya pelanggaran terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) oleh dapur, dan beberapa makanan yang seharusnya tidak boleh dibawa pulang oleh penerima manfaat juga telah dilanggar. Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh dan investigasi bersama Dinas Kesehatan untuk menuntaskan masalah ini,” tambah Ketut.
Berdasarkan pemeriksaan awal, ditemukan sejumlah ketidakpatuhan terhadap SOP, termasuk pengolahan telur yang dilakukan lebih awal pada pukul 19.30 WIB dan pemanasan kembali yang dilakukan pada pukul 02.30 WIB.
Selain itu, ditemukan juga masalah kebersihan di beberapa area SPPG yang perlu mendapat perhatian khusus. Temuan ini masih dalam tahap investigasi dan belum menjadi kesimpulan akhir mengenai penyebab insiden yang terjadi.
“Kami sedang menyelidiki semua aspek mulai dari penerimaan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, pemorsian, hingga distribusi. Kami berkomitmen untuk tidak berspekulasi mengenai penyebab insiden ini sebelum seluruh pemeriksaan selesai. Semua langkah yang diambil harus berdasarkan fakta yang ada serta hasil investigasi yang mendalam,” jelasnya.
➡️ Baca Juga: Strategi Tim Sepak Bola Mengatasi Tekanan di Pertandingan Krusial Akhir Musim
➡️ Baca Juga: Iran Mengklaim Penangkapan Tentara AS, Namun Washington Menyangkalnya




