Arab Saudi Kurangi Harga Minyak ke Pasar Asia, Terendah Sejak 2020

Arab Saudi baru-baru ini mengejutkan pasar dengan keputusan untuk menurunkan harga resmi minyak mentah untuk pasar Asia di bulan November 2026. Ini merupakan penyesuaian harga terendah dalam enam tahun terakhir, diambil dalam konteks meningkatnya biaya pengiriman yang disebabkan oleh gangguan dalam jalur perdagangan minyak global.
Berdasarkan informasi yang dirilis oleh Reuters, perusahaan minyak nasional Saudi, Saudi Aramco, mengumumkan harga jual resmi atau official selling price (OSP) untuk minyak mentah Arab Light yang ditujukan bagi pasar Asia, yang ditetapkan pada angka US$5 per barel, atau sekitar Rp89.500 per barel. Harga ini lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata harga minyak Oman dan Dubai.
Penurunan harga ini mencapai US$3 atau sekitar Rp53.700 per barel jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Diskon ini tercatat sebagai yang terbesar sejak bulan Juni 2020, menunjukkan langkah signifikan dalam strategi harga yang diambil oleh Arab Saudi.
Kebijakan pemangkasan harga ini mengejutkan banyak pengamat pasar. Sebelumnya, proyeksi memperkirakan bahwa harga jual minyak Saudi untuk Asia justru akan mengalami kenaikan hingga US$5 atau sekitar Rp89.500 per barel, sejalan dengan tren kenaikan harga minyak acuan di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, Saudi Aramco juga mengurangi harga untuk jenis minyak dengan kadar lebih berat, yaitu Arab Medium dan Arab Heavy, untuk konsumen di Asia, masing-masing dengan penurunan sebesar US$5 atau sekitar Rp89.500 per barel.
Salah satu faktor yang memicu keputusan ini adalah lonjakan biaya pengiriman minyak. Saudi Aramco sebelumnya mempertimbangkan untuk memberikan diskon pada minyak yang diangkut dari Oman sebagai upaya untuk mengimbangi kenaikan biaya pengangkutan dan menjaga pangsa pasar di kawasan Asia.
Biaya sewa untuk kapal tanker berkapasitas sangat besar, atau very large crude carrier (VLCC), yang dapat mengangkut sekitar 2 juta barel minyak dari Teluk ke China, mengalami lonjakan yang signifikan. Data terbaru menunjukkan bahwa biaya sewa kapal tersebut mencapai sekitar US$1,2 juta atau setara dengan Rp21,48 miliar per hari pada hari Jumat.
Angka tersebut mencolok jika dibandingkan dengan sekitar US$80.000 atau sekitar Rp1,43 miliar per hari pada periode yang sama tahun sebelumnya, menunjukkan peningkatan yang dramatis dalam biaya transportasi.
Tiga sumber yang berasal dari sektor pengilangan di Asia menilai bahwa pemotongan OSP Saudi kemungkinan besar bertujuan untuk meringankan beban biaya pengiriman yang ditanggung oleh para pembeli. Dengan meningkatnya ongkos angkut, harga minyak yang lebih rendah diharapkan dapat membantu menutupi biaya logistik tambahan tersebut.
➡️ Baca Juga: Aman Dipakai? Panduan Bijak Mengutak-atik Developer Options di Android
➡️ Baca Juga: Betrand Beto Akan Diperiksa oleh Polisi Terkait Laporan Dugaan Kekerasan Seksual




