Tidur Singkat Akibat Bekerja? Kenali Dampak Negatifnya bagi Kesehatan Otak Anda

Rutinitas harian di kota-kota besar sering kali mengorbankan waktu tidur yang berkualitas. Banyak orang terjebak dalam siklus pekerjaan yang tidak kunjung selesai, terpapar layar gadget hingga larut malam, dan tuntutan aktivitas sehari-hari yang mengharuskan mereka untuk tidur lebih sedikit dari yang seharusnya.
Jika pola tidur yang buruk ini terus berlanjut, dampak negatif tidur singkat tidak hanya akan membuat tubuh merasa lelah, tetapi juga mempengaruhi kesehatan otak. Gejala yang mungkin muncul meliputi kesulitan berkonsentrasi, kehilangan ingatan, kabut mental, perubahan suasana hati, hingga gangguan pada fungsi kognitif.
Isu mengenai tidur semakin mendesak di tengah gaya hidup masyarakat urban yang tidak bisa terlepas dari perangkat digital. Saat tubuh membutuhkan waktu untuk beristirahat, otak justru masih dipenuhi oleh berbagai rangsangan dari pekerjaan, media sosial, dan aktivitas digital lainnya.
Sementara itu, tidur memiliki peran yang sangat krusial bagi otak. Dalam fase tidur, tubuh dan otak melakukan berbagai proses pemulihan yang sangat diperlukan untuk mendukung fungsi kognitif pada hari berikutnya.
Dokter Spesialis Neurologi, dr. Oktaviana Niken P., Sp.N., DAIFIDN.,MMRS.,FNR.,AIFO-K., menekankan betapa pentingnya tidur bagi kesehatan otak.
“Tidur bukan sekadar waktu istirahat, melainkan proses yang esensial bagi otak untuk memperbaiki sel-sel saraf dan menguatkan memori. Deteksi dini melalui pemeriksaan seperti qEEG sangat berperan dalam menentukan langkah penanganan yang tepat,” ungkap dr. Oktaviana dalam sebuah konferensi pers di Seraphim Medical Center, BSD, Tangerang, Rabu (30/9/2026).
Quantitative electroencephalography (qEEG) atau pemetaan otak qEEG adalah pemeriksaan yang memetakan aktivitas gelombang otak. Pemeriksaan ini memberikan gambaran pola aktivitas otak yang berkaitan dengan kondisi tertentu, sehingga dapat membantu dalam diagnosis.
Seringkali, gangguan tidur atau perasaan lelah yang terus-menerus dianggap sebagai hal sepele akibat kesibukan. Namun, gejala seperti insomnia, kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, dan kelelahan akibat stres seharusnya menjadi sinyal bahwa tubuh memerlukan perhatian lebih.
Contohnya, keluhan kabut mental (brain fog) dapat membuat seseorang merasa sulit untuk berpikir jernih atau fokus saat menjalani aktivitas sehari-hari.
Demikian pula, gangguan motorik dalam situasi tertentu bisa berkaitan dengan masalah neurologis. Oleh karena itu, setiap perubahan dalam kemampuan fisik atau pola tidur yang berlangsung terus-menerus tidak boleh dipandang sebelah mata.
➡️ Baca Juga: AHY: Pemimpin Sejati Fokus Mempersiapkan Penerus, Bukan Memikirkan Legasi
➡️ Baca Juga: Peran Ilmu Olahraga dalam Meningkatkan Daya Tahan Pemain Sepak Bola Profesional




