Pasokan Bahan Pokok dari NTB dan Jatim Dukung Kebutuhan Korban Gempa NTT

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menegaskan pentingnya menjaga koordinasi antardaerah dalam rangka memenuhi kebutuhan pasokan bagi para korban gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Budi menyatakan bahwa pihaknya tengah mengintensifkan distribusi bahan pokok dari provinsi-provinsi yang berdekatan dengan NTT, seperti Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Jawa Timur. Langkah ini diambil agar bantuan yang diperlukan dapat segera sampai ke tangan para korban.
“Distribusi di NTT harus terus dipantau agar tidak ada keterlambatan. Kami akan terus berkoordinasi dengan provinsi terdekat, seperti NTB dan juga dari Jawa, karena Jawa Timur memiliki banyak pasokan telur yang sangat dibutuhkan,” ungkap Budi di Jakarta, Senin, 17 Agustus 2026.
Ia juga menambahkan bahwa upaya ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Perdagangan yang melakukan penyesuaian harga melalui sistem pencocokan bisnis antar daerah yang mengalami kekurangan pasokan dan ketidaksesuaian harga bahan pokok.
“Apabila terdapat kenaikan harga di daerah lain, kami menginisiasi program business matching antarwilayah. Kami memfasilitasi pertemuan antara supplier dan pembeli, terutama di wilayah timur yang menghadapi harga tinggi,” jelas Budi.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan terkait kebutuhan bahan pokok serta distribusinya ke daerah-daerah yang terkena dampak bencana.
Langkah tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan distributor di daerah terdekat, Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kementerian Perdagangan, serta pemerintah daerah setempat.
“Kami juga telah berkoordinasi dengan para distributor, terutama yang berada di provinsi terdekat seperti NTB. Kami ingin memastikan bahwa pasokan tetap terjaga, terutama setelah bencana yang terjadi di NTT,” tambahnya.
Sebelumnya, gempa bumi dengan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8) pukul 05.58 WITA.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan pada Minggu malam (16/8) bahwa sebanyak 54 jiwa meninggal dunia, 199 orang mengalami luka-luka, serta 9.963 orang harus mengungsi. Selain itu, terdapat 1.528 kepala keluarga yang terdampak.
BNPB juga mencatat bahwa terdapat 2.403 rumah yang rusak akibat gempa di bagian utara Pulau Flores, dengan rincian 1.543 rumah mengalami kerusakan berat, 328 rumah rusak sedang, dan 532 rumah rusak ringan.
➡️ Baca Juga: Pataka Divhumas Polri ‘Sahityadharma Narawata’
➡️ Baca Juga: Caritas Gelar Townhall Bahas Solusi Krisis Utang Global




