China Siap Tanggapi CIA, Spionase Ekonomi AS Dikenal Sebagai ‘Logika Bandit

Pemerintah China mengkritik pernyataan yang dibuat oleh Michael Ellis, Wakil Direktur CIA, yang secara terbuka mengungkapkan bahwa badan intelijen AS melakukan operasi spionase ekonomi terhadap negara tersebut.
Pernyataan kontroversial ini muncul menjelang pertemuan penting antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung di Gedung Putih, Washington DC.
Ellis menyatakan bahwa Amerika Serikat harus meningkatkan usaha pengumpulan intelijen untuk menghadapi apa yang dinyatakan sebagai ancaman dari China, khususnya dalam domain ekonomi dan teknologi.
Menurut Ellis, keterhubungan ekonomi yang erat antara AS dan China bisa menjadi celah yang dimanfaatkan Beijing untuk memengaruhi Washington. “Ekonomi kita saling terkait dengan ekonomi mereka,” tegasnya, merujuk pada laporan CNA.
Ia menambahkan bahwa CIA perlu mengadopsi pendekatan baru untuk merespons persaingan ini. Ellis menjelaskan perlunya kemampuan dalam mengumpulkan dan menganalisis informasi luar negeri yang berkaitan dengan keamanan ekonomi Amerika Serikat.
Fokus utama dari usaha ini mencakup sektor-sektor strategis yang merupakan arena persaingan kedua negara, seperti industri semikonduktor dan bioteknologi. Pernyataan Ellis langsung memicu reaksi keras dari Kementerian Perdagangan China.
Dalam rilis resmi yang dikeluarkan pada Jumat, 11 September 2026, Beijing menilai sikap Amerika Serikat sebagai bentuk “logika bandit” dan menuduh Washington secara terbuka menjadikan perusahaan-perusahaan China sebagai target spionase.
“AS telah dengan jelas menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan asal China adalah sasaran spionase yang sah,” ungkap kementerian tersebut.
China menegaskan bahwa kemajuan teknologinya, termasuk dalam bidang kecerdasan buatan (AI) dan bioteknologi, seharusnya tidak diperlakukan sebagai objek atau “mangsa” oleh negara lain.
Pemerintah Beijing menilai tindakan Amerika Serikat mencerminkan mentalitas Perang Dingin dan sengaja merusak persaingan yang sehat. Selain itu, Washington juga dituduh mengabaikan norma-norma perdagangan internasional yang seharusnya dihormati.
Kementerian Perdagangan China memperingatkan bahwa Beijing akan mengambil “langkah-langkah yang diperlukan” untuk melindungi kepentingan nasionalnya.
Ketegangan terbaru ini muncul di tengah hubungan AS-China yang masih dibayangi oleh sejumlah isu, terutama dalam konteks perdagangan, teknologi, dan keamanan.
Situasi ini menarik perhatian karena terjadi kurang dari dua minggu sebelum pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung di Gedung Putih pada 24 September mendatang, berdasarkan laporan dari Washington DC.
➡️ Baca Juga: Freelance Online Ideal untuk Pemula yang Ingin Belajar dan Menghasilkan Uang
➡️ Baca Juga: Purbaya Salurkan Tambahan TKD Rp 4,4 Triliun untuk Tiga Provinsi Terkena Bencana Sumatera




