happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

depo 10k depo 10k
otomotif

Perang Dagang China dan Eropa Memanas, Dampaknya pada Pasar Mobil Hybrid

Persaingan antara industri otomotif China dan Eropa kembali menunjukkan ketegangan yang signifikan. Kali ini, fokus tidak hanya tertuju pada kendaraan listrik murni atau battery electric vehicle (BEV), tetapi juga pada kendaraan hybrid yang semakin menguasai pasar Eropa.

Pemerintah China secara tegas menolak proposal Uni Eropa mengenai pembatasan ekspor kendaraan hybrid. Mereka berargumen bahwa skema pembatasan ini bertentangan dengan prinsip-prinsip perdagangan internasional yang telah disepakati.

Kementerian Perdagangan China menegaskan bahwa yang disebut sebagai voluntary export restrictions atau pembatasan ekspor sukarela adalah suatu pelanggaran terhadap aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan prinsip persaingan pasar yang adil.

Juru bicara Kementerian Perdagangan China menyatakan, “Pembatasan ekspor sukarela ini jelas-jelas melanggar ketentuan WTO dan merusak prinsip pasar yang sehat dan persaingan yang adil. China menolak keras kebijakan tersebut.”

Pernyataan ini mencuat setelah laporan yang menyebutkan bahwa Uni Eropa telah meminta China untuk membatasi ekspor kendaraan hybrid ke wilayahnya. Jika kesepakatan tidak tercapai, Eropa mungkin akan mempertimbangkan untuk menaikkan tarif impor.

Isu ini menjadi sangat relevan mengingat melonjaknya angka impor mobil hybrid asal China ke Eropa. Menurut data yang dirilis, jumlah kendaraan hybrid yang dikirim dari China ke Uni Eropa melonjak dari sekitar 3.800 unit pada Oktober 2024 menjadi 50.000 unit pada Juli 2026.

Selama periode yang sama, harga rata-rata kendaraan tersebut juga menunjukkan penurunan yang signifikan. Hal ini membuat mobil hybrid asal China semakin bersaing di pasar Eropa.

Sebelumnya, Eropa telah memberlakukan tarif tambahan terhadap mobil listrik murni dari China. Dengan tarif yang ada, total bea masuk untuk beberapa BEV dari China dapat mencapai sekitar 45 persen jika dihitung dengan bea yang sudah ada.

Di sisi lain, kendaraan hybrid masih dikenakan tarif sekitar 10 persen, yang memberikan mereka keunggulan kompetitif.

Menariknya, setelah penerapan kebijakan tersebut, pertumbuhan ekspor BEV dari China ke Eropa cukup terbatas. Sebaliknya, angka impor kendaraan hybrid justru mengalami peningkatan yang pesat.

Dengan situasi ini, kendaraan hybrid kini menjadi fokus baru dalam ketegangan perdagangan antara China dan Uni Eropa.

China menegaskan bahwa setiap solusi yang akan dicapai dengan Uni Eropa harus mempertimbangkan kepentingan kedua belah pihak, serta mematuhi ketentuan WTO dan hukum domestik yang berlaku, sambil tetap memperhatikan kepentingan industri otomotif di masing-masing wilayah.

    ➡️ Baca Juga: Prabowo Dorong Negara BRICS Transformasi Kerentanan Menjadi Kekuatan Ekonomi

    ➡️ Baca Juga: Jadwal SIM Keliling 3 September 2026: Lokasi di Jakarta, Bogor, Bekasi, dan Bandung

    Related Articles

    Back to top button