Strategi Efektif Mengatasi Isu Akses Layanan Kesehatan di Papua

Berbagai tantangan dalam akses layanan kesehatan masih sering dihadapi oleh masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Papua. Hal ini disebabkan oleh sejumlah masalah yang terus mengemuka.
Contohnya, ketersediaan obat yang terbatas di Puskesmas Pembantu (Pustu), infrastruktur jalan yang tidak memadai menuju fasilitas kesehatan, serta kurangnya akses terhadap air bersih. Selain itu, masyarakat juga harus menghadapi berbagai penyakit endemik seperti malaria, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan skabies.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan pentingnya pembangunan wilayah yang tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada pengembangan ekosistem ekonomi masyarakat.
“Pembangunan kewilayahan yang kita lakukan tidak hanya sebatas infrastruktur fisik, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi masyarakatnya melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi yang tepat guna,” ungkap AHY dalam pernyataannya, yang dilansir pada hari Senin (12/10/2026).
Visi ini juga menjadi landasan dalam transformasi area transmigrasi, yang didorong oleh Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara. Ia mendorong agar kawasan transmigrasi dapat bertransformasi menjadi pusat ekonomi baru dengan pendekatan kreativitas dan digitalisasi.
“Kawasan transmigrasi harus bertransformasi menjadi lumbung ekonomi baru. Produk-produk lokal dari para transmigran harus dapat menembus pasar nasional dengan sentuhan kreativitas dan digitalisasi,” jelas Iftitah.
Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah akses layanan kesehatan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Papua, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 11 Institut Teknologi Bandung (ITB) meluncurkan situs lerehfarma.id dalam acara sosialisasi yang diadakan di Balai Kampung Purnawajati, Distrik Yapsi, Kabupaten Jayapura, Papua.
Melalui situs lerehfarma.id, masyarakat kini memiliki akses untuk mengecek ketersediaan obat, menemukan lokasi fasilitas kesehatan terdekat, membaca panduan pencegahan penyakit, serta menyampaikan keluhan melalui fitur kotak pengaduan warga.
Inisiatif digital ini mendapatkan sambutan positif dari berbagai pihak di daerah setempat. Salah satu tenaga kesehatan, Bidan Sinta, mengungkapkan bahwa keberadaan situs ini sangat membantunya, karena warga tidak perlu lagi menghabiskan waktu dan tenaga untuk datang ke Pustu hanya untuk menanyakan ketersediaan obat.
“Jika obat di Pustu kosong, warga bisa langsung mencari alternatifnya di apotek lain. Ini sangat memudahkan,” kata Sinta.
Hal yang sama juga dirasakan oleh salah satu warga Yapsi, Susanto, yang merasa terbantu dengan adanya saluran khusus untuk menyampaikan keluhan terkait keterbatasan obat-obatan dan layanan kesehatan di daerahnya.
➡️ Baca Juga: Kolonel Priyo Handoyo Pimpin Upacara HUT ke-81 RI di Semarang, Simak Profil Lengkapnya
➡️ Baca Juga: Aktivis Tolak Reklamasi di Pesisir Utara Jawa




