Asap Karhutla Kalimantan Menyebar ke Filipina, Warga Dihimbau Gunakan Masker N95

Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berasal dari Indonesia kini telah mencapai Manila, Filipina, pada hari Selasa. Jarak antara lokasi kebakaran dan ibu kota Filipina ini mencapai hampir 2.000 kilometer, menunjukkan seberapa jauh dampak dari kebakaran tersebut.
Kondisi ini berdampak pada kualitas udara di sejumlah daerah di Manila, menimbulkan kekhawatiran serius mengenai kesehatan masyarakat setempat. Fenomena kabut asap ini juga mengingatkan kembali akan masalah kabut asap lintas negara yang sering terjadi di kawasan Asia Tenggara, yang kerap menjadi isu serius bagi negara-negara di sekitarnya.
Menurut laporan yang diambil dari sumber terpercaya, pada Kamis, 3 September 2026, kabut asap dari kebakaran di Kalimantan membawa dampak negatif terhadap kualitas udara di Metro Manila. Para ahli kesehatan pun menganjurkan masyarakat untuk menggunakan masker N95 saat beraktivitas di luar ruangan, sebagai langkah perlindungan setelah terdeteksinya penurunan kualitas udara di beberapa area ibu kota.
Di dalam beberapa wilayah di Manila, indeks kualitas udara bahkan mencapai level yang sangat tidak sehat, menurut peringatan yang dikeluarkan oleh Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam Filipina pada hari Minggu, hasil pemantauan dari berbagai stasiun pengukur kualitas udara yang ada.
Kondisi ini membuat pemerintah setempat, khususnya di Quezon City, mengambil langkah cepat dengan menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar di seluruh sekolah untuk melindungi kesehatan para siswa dan staf.
Gerry Bagtasa, seorang fisikawan atmosfer Filipina, menyatakan kepada media lokal bahwa kabut asap ini sangat berbahaya karena mengandung partikel-partikel halus yang terbawa oleh angin dari arah barat daya. Melalui citra satelit, Bagtasa mengonfirmasi bahwa polutan tersebut berasal dari kebakaran hutan yang semakin meluas di bagian barat dan selatan Kalimantan.
Meskipun jarak antara Kalimantan dan Manila adalah sekitar 1.939 kilometer, Bagtasa menjelaskan bahwa ada dua topan yang saat ini berada di sebelah timur Taiwan dan selatan Hong Kong, serta fenomena El Nino yang sedang berlangsung, turut mempengaruhi arah dan kekuatan angin muson barat daya yang biasa terjadi pada waktu ini.
“Dua topan yang aktif dan fenomena El Nino ini menarik angin Habagat, sehingga membawa emisi dari kebakaran yang terjadi di Kalimantan,” ungkap Bagtasa.
Ia juga memperkirakan bahwa kabut asap ini kemungkinan masih akan bertahan hingga akhir pekan, tergantung pada perubahan arah angin yang mungkin terjadi.
Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sering kali disebabkan oleh kombinasi dari cuaca kering, kondisi lahan gambut, serta praktik pembukaan lahan secara ilegal. Ketika arah angin bergeser secara musiman, asap dari kebakaran besar tersebut dapat dengan mudah melintasi batas negara dan mengganggu kualitas udara di negara tetangga.
➡️ Baca Juga: SBY Akui Pikirannya Terganggu dengan Kebijakan Tarif Trump
➡️ Baca Juga: KPK Selidiki Mekanisme Pengurusan Cukai Bos Rokok Madura Haji Her




