pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

depo 10k depo 10k
bisnis

Rupiah Menguat Menjadi Rp 17.661 di Tengah Isu Pergantian Menkeu Purbaya ke Suahasil

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan mengalami penurunan dalam perdagangan hari ini.

Berdasarkan informasi dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS tercatat pada posisi Rp 17.635 pada Senin, 14 September 2026. Ini menunjukkan penurunan sebesar 24 poin dari nilai sebelumnya yang berada di level Rp 17.611 pada perdagangan hari Jumat, 11 September 2026.

Namun, pada perdagangan di pasar spot pada Selasa, 15 September 2026 hingga pukul 09.00 WIB, rupiah mengalami penguatan dengan nilai transaksi di Rp 17.661 per dolar AS. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 8 poin atau 0,05 persen dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp 17.669 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa penurunan nilai ini terjadi di tengah isu mengenai pergantian Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.

“Momentum saat ini terkait dengan kemungkinan reshuffle Purbaya sudah menjadi perhatian yang cukup lama. Kita lihat bahwa Purbaya selama ini dikenal bersih dalam pengelolaan di Kementerian Keuangan, khususnya dalam pajak dan bea cukai. Namun, hal ini bisa menyebabkan banyak kritik, terutama dari kalangan partai politik,” ujar Ibrahim saat diwawancarai, Selasa, 15 September 2026.

Di sisi lain, Ibrahim juga menyampaikan bahwa penurunan nilai rupiah ini dipicu oleh kondisi perekonomian global yang diperkirakan masih akan menghadapi berbagai tantangan sepanjang tahun 2026.

Tantangan tersebut antara lain ditandai dengan harga energi yang tetap tinggi, suku bunga global yang tetap berada di level tinggi, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi di berbagai belahan dunia.

“Oleh karena itu, pemerintah diharapkan masih memiliki ruang untuk melakukan efisiensi pada anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menjaga defisit APBN 2026 tetap berada di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB),” ungkap Ibrahim.

Ia menilai bahwa untuk mempertahankan defisit APBN 2026 di bawah angka 3 persen, diperlukan penyesuaian yang cukup signifikan dalam belanja anggaran. Program MBG menjadi salah satu program yang masih memiliki potensi untuk dilakukan efisiensi, karena masih memungkinkan untuk diperluas efisiensinya.

Anggaran awal untuk program ini yang mencapai sekitar Rp 330 triliun dianggap cukup besar, terutama jika dibandingkan dengan kesiapan pengelolaan di lapangan. Penurunan anggaran MBG menjadi sekitar Rp 262,5 triliun, kemudian Rp 232,5 triliun (penurunan Rp 30 triliun) untuk 72,46 juta penerima, bahkan jika harus ditekan di bawah Rp 200 triliun, hal tersebut masih dapat diterima. Namun, efisiensi yang dilakukan harus diarahkan pada komponen yang tidak produktif.

    ➡️ Baca Juga: Potongan Tubuh Satpam Ayam Geprek Ditemukan Dimutilasi dan Dibuang di Bogor

    ➡️ Baca Juga: PB ESI Targetkan Emas Asian Games 2026 dengan Andalan Satu Gim Ini untuk Indonesia

    Related Articles

    Back to top button