ASDP Catat Layanan Penyeberangan 4.722.213 Orang Selama Arus Mudik Lebaran 2026, Naik 6,6%

Momen mudik Lebaran merupakan lebih dari sekadar perjalanan kembali ke kampung halaman; ia menjadi simbol mobilitas nasional yang menyatukan beragam cerita, harapan, dan kerinduan. Di tahun ini, peningkatan jumlah pergerakan kembali terlihat signifikan, namun dapat dikelola dengan baik berkat kesiapan sistem dan kolaborasi lintas sektor yang terjalin secara solid.
Dalam konteks ini, moda penyeberangan berhasil melayani 5,52 juta penumpang, mencatatkan peningkatan sebesar 15,32 persen dibandingkan tahun lalu. PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) berkomitmen untuk memastikan layanan transportasi yang tidak hanya dapat diandalkan, tetapi juga fleksibel dan terkelola dengan baik, terutama di 15 lintasan yang menjadi perhatian nasional.
Sejak H-8 hingga H+8 pukul 06.00 WIB, total penumpang yang menggunakan 15 lintasan yang dipantau mencapai 4.722.213 orang, meningkat 6,6% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 4.430.006 orang. Di sisi lain, jumlah kendaraan yang tercatat mencapai 1.215.273 unit, meningkat 8% dari angka 1.125.178 unit pada periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, menyatakan bahwa meskipun terjadi lonjakan signifikan, layanan penyeberangan tetap mampu beroperasi dengan baik. Hal ini terlihat dari kelancaran arus layanan dan distribusi trafik yang semakin merata di berbagai lintasan, termasuk saat puncak arus mudik dan balik.
“Keberhasilan dalam menjaga kelancaran layanan dan distribusi trafik yang lebih merata, bahkan saat puncak arus, merupakan hasil dari persiapan operasional yang telah dilakukan secara menyeluruh jauh sebelum masa Angkutan Lebaran dimulai. Optimalisasi armada serta dukungan digitalisasi layanan menjadi kunci utama untuk memastikan kinerja penyeberangan tetap andal,” jelas Heru dalam keterangannya.
Lintasan-lintasan yang dimaksud adalah jalur vital dengan tingkat mobilitas yang tinggi, termasuk Merak – Bakauheni, Ciwandan – Wika Beton, Bojonegara – Muara Pilu, Ketapang – Gilimanuk, Padangbai – Lembar, Jangkar – Lembar, Kayangan – Pototano, Kariangau – Penajam, Bajoe – Kolaka, Hunimua – Waipirit, Bira – Pamatata, Bolok – Rote, Bitung – Ternate, Ajibata – Ambarita, Telaga Punggur – Tanjung Uban, Tanjung Api-Api – Tanjung Kalian, serta Nias – Sibo.
Dalam pelaksanaannya, lintasan yang menghubungkan Jawa, Sumatera, dan Bali tetap menjadi titik krusial dalam pergerakan nasional. Berbagai langkah antisipatif telah diambil secara terukur, mulai dari pengaturan pola operasi kapal yang disesuaikan dengan kebutuhan harian, penerapan skema Tiba-Bongkar-Berangkat saat terjadi kepadatan, hingga sistem penundaan melalui titik buffer zone. Selain itu, pemanfaatan digitalisasi melalui Ferizy dan kebijakan stimulus berupa diskon tarif juga diterapkan untuk mendorong distribusi perjalanan yang lebih merata dan inklusif.
➡️ Baca Juga: MLSC Dapatkan PSSI Awards 2026 Setelah Menjangkau 32 Ribu Calon Pesepakbola Putri
➡️ Baca Juga: KPK Amankan Uang Rp 1 Miliar dari Penggeledahan Terkait Kasus Korupsi Rejang Lebong




