Serangan Israel di Lebanon Menewaskan Penasihat Pemimpin Hizbullah, Naim Qadsem

Militer Israel dilaporkan melancarkan serangan udara di Beirut, Lebanon pada Rabu, 9 April, hanya beberapa saat setelah dicapainya kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran. Dalam insiden ini, Naim Qadsem, penasihat dekat pemimpin Hizbullah, dinyatakan tewas.
Keterangan resmi dari Angkatan Pertahanan Israel (IDF) yang dirilis pada Kamis, 9 April 2026, mengonfirmasi bahwa dalam serangan tersebut, Ali Yusuf Harshi, yang merupakan sekretaris pribadi sekaligus keponakan Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, turut menjadi korban.
Pernyataan tersebut menambahkan bahwa Harshi adalah orang kepercayaan dan penasihat Qassem yang berperan krusial dalam pengaturan serta pengamanan kantor pemimpin Hizbullah tersebut.
IDF juga mengungkapkan bahwa mereka telah menghancurkan dua jalur strategis yang digunakan oleh Hizbullah untuk memindahkan senjata menuju selatan Sungai Litani, serta menghancurkan sepuluh lokasi yang berfungsi sebagai gudang senjata, peluncur, dan pusat komando di Lebanon selatan.
Pada hari Rabu, Israel melaksanakan serangan terbesarnya di Lebanon, termasuk di area padat penduduk di pusat kota Beirut, setelah keterlibatan kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran dalam konflik yang dimulai awal Maret.
Serangan tersebut mengakibatkan lebih dari 254 orang kehilangan nyawa.
Serangan udara Israel menghantam berbagai kawasan bisnis dan permukiman di pusat Beirut tanpa adanya peringatan sebelumnya, menewaskan ratusan orang dan menyebabkan lebih dari 1.000 lainnya terluka. Insiden ini berlangsung hanya beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Hingga Kamis pagi, 9 April 2026, Badan Pertahanan Sipil Lebanon melaporkan jumlah korban tewas mencapai sedikitnya 254 orang, dengan lebih dari 1.165 orang mengalami luka-luka akibat serangan pada hari sebelumnya.
Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, menggambarkan situasi ini sebagai sebuah eskalasi yang sangat berbahaya setelah Israel melancarkan lebih dari 100 serangan udara di berbagai wilayah Lebanon.
“Ambulans masih terus membawa korban ke rumah sakit. Kami meminta bantuan dari organisasi internasional untuk mendukung sektor kesehatan Lebanon,” ujar Nassereddine kepada media, yang dikutip pada Kamis, 9 April 2026.
Sementara itu, militer Israel menyatakan bahwa mereka telah melaksanakan serangan terkoordinasi terbesar di Lebanon sejak memulai operasi militernya pada 2 Maret. Target serangan tersebut mencakup wilayah Beirut, Lembah Bekaa, dan bagian selatan Lebanon.
➡️ Baca Juga: Freelance Mandiri: Kelola Proyek Kerja Sesuai Kapasitas dan Waktu Pribadi Anda
➡️ Baca Juga: Praja IPDN Dikerahkan ke Aceh Tamiang untuk Bersihkan Sisa Lumpur Bencana Alam




