IHSG Memerah di Awal Perdagangan, Namun Berpotensi Rebound Seiring Penguatan Bursa Asia dan Wall Street

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan hari Senin, 6 April 2026 dengan penurunan sebesar 25 poin atau setara dengan 0,36 persen, sehingga berada di level 7.001.
Fanny Suherman, Kepala Riset Ritel di BNI Sekuritas, memprediksi bahwa IHSG akan menguji level support dengan kemungkinan terjadinya rebound pada hari ini.
“IHSG berpotensi untuk menguji area support yang kuat di angka 7.000. Jika indeks ini menembus di bawah level tersebut, maka kemungkinan akan melanjutkan koreksi ke kisaran 6.850 hingga 6.950 dalam jangka pendek. Namun, jika mampu bertahan di 7.000, IHSG berpeluang untuk mengalami rebound teknis jangka pendek,” ungkap Fanny dalam laporan riset harian yang diterbitkan pada hari Senin.
Bursa Asia menunjukkan penguatan yang moderat setelah Wall Street ditutup lebih tinggi, didorong oleh harapan bahwa konflik yang melibatkan Iran semakin mendekati resolusi.
Indeks Nikkei 225 Jepang mengalami kenaikan sebesar 1,26 persen, sementara Topix menguat 0,96 persen. Di Korea Selatan, indeks Kospi melonjak 2,74 persen dan Kosdaq naik 0,70 persen. Sebaliknya, indeks CSI 300 China mengalami penurunan sebesar 0,85 persen, dan FTSE Malaysia juga melemah 0,16 persen.
Pemerintah Amerika Serikat dijadwalkan untuk merilis sejumlah data ekonomi penting, termasuk laporan tentang non-farm payrolls untuk bulan Maret.
Harga minyak menunjukkan sedikit penurunan dari level tertingginya, setelah muncul laporan bahwa Iran sedang menyusun draf protokol dengan Oman untuk mengawasi lalu lintas di Selat Hormuz. Protokol ini akan mewajibkan pengirim barang untuk membayar bea kepada Iran.
“Level support IHSG berada di kisaran 6.950 hingga 7.000, sementara resistensinya terletak di rentang 7.070 hingga 7.150,” tambahnya.
Sebagai informasi, indeks utama di Wall Street ditutup dengan hasil yang bervariasi pada akhir perdagangan hari Kamis yang lalu, seiring dengan adanya sinyal positif dari diplomasi di Timur Tengah yang membantu meredakan ketegangan pasar, meskipun ada ancaman dari Presiden AS, Donald Trump, mengenai tindakan lebih lanjut terhadap Iran menjelang liburan panjang akhir pekan.
Indeks Dow Jones Industrial Average mengalami penurunan sebesar 0,13 persen, sedangkan S&P 500 naik 0,11 persen, dan Nasdaq Composite menguat sebesar 0,18 persen. Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran yang menyebutkan bahwa mereka sedang merancang protokol dengan Oman untuk mengatur lalu lintas di Selat Hormuz.
Sementara itu, Inggris menyampaikan bahwa sejumlah negara sedang mendiskusikan cara untuk mengakhiri krisis yang ada, yang berfungsi untuk meredakan ketakutan akan gangguan berkepanjangan terhadap pasokan minyak global.
➡️ Baca Juga: Ashley Cole Dincar Klub Italia untuk Menjadi Pelatih Setelah Karier Legenda Arsenal-Chelsea
➡️ Baca Juga: Freelance Online Ideal untuk Pemula yang Ingin Belajar dan Menghasilkan Uang




