Ibu di NTT Hadapi Tantangan Melahirkan Saat Gempa Magnitudo 7,7 Mengguncang Wilayah

Di tengah bencana gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada pagi hari, 15 Agustus 2026, Maria Florida menghadapi tantangan luar biasa saat melahirkan. Perempuan yang berasal dari Nogo Kelen ini terpaksa menjalani operasi darurat untuk melahirkan anak keempatnya, sambil terus merasakan guncangan hebat dari gempa dan serangkaian gempa susulan yang terjadi di kawasan tersebut.
Dalam sebuah video yang diunggah oleh saluran berita dari Singapura, CNA News, Maria mengungkapkan rasa syukurnya kepada tim medis yang hadir dan memberikan bantuan selama proses persalinannya.
“Ini adalah situasi yang sangat mendesak, meski dalam kondisi guncangan yang terus menerus, tim dokter tetap menyelesaikan tugas mereka dengan sangat baik. Ini adalah perjuangan yang luar biasa. Terima kasih kepada semua dokter, bidan, dan perawat,” ungkap Maria dalam video tersebut, yang diambil dari akun resmi CNA News pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Maria harus melahirkan lebih awal dari jadwal yang diperkirakan, yaitu dua bulan lebih cepat, karena kehamilannya mengalami komplikasi yang mengancam keselamatan dirinya dan bayinya. Kondisi ini memaksa tim medis untuk melakukan operasi dengan menggunakan cahaya senter, mengingat listrik di rumah sakit sering kali padam. Selama proses operasi, gedung rumah sakit juga terus bergetar hebat akibat gempa.
“Usia kehamilan saya saat itu hanya 31 minggu, dan saya masih dalam pengawasan dokter, menunggu waktu yang tepat. Namun ketika gempa terjadi, saya sangat bersyukur kepada tim medis. Walaupun situasi sangat kritis, dengan ruangan yang mulai ambruk, mereka tidak meninggalkan pasien,” jelasnya.
Sementara itu, dokter spesialis kebidanan yang menangani Maria, dr. Yona Sara Pardede, menyatakan bahwa tindakan operasi harus segera dilakukan di tengah guncangan gempa. Ia menjelaskan bahwa penundaan persalinan dapat berakibat fatal, termasuk risiko kejang pada pasien.
Sebagai seorang manusia yang juga merasakan ketakutan, dr. Yona mengakui bahwa ia merasa cemas saat menjalani proses kelahiran Maria di tengah guncangan yang kuat pada hari itu.
“Saya tidak memiliki banyak pilihan. Jujur, saya merasa ketakutan saat itu karena gempa sedang berlangsung. Ketika saya melakukan tindakan operasi, gempa masih terjadi. Sebagai manusia, wajar saja merasa takut, apalagi saya berasal dari daerah yang jarang mengalami gempa,” tuturnya.
➡️ Baca Juga: Presiden Iran Menegaskan Gencatan Senjata di Lebanon Sebagai Syarat Perdamaian dengan Teheran
➡️ Baca Juga: Iran Mengklaim Penangkapan Tentara AS, Namun Washington Menyangkalnya



