Aldi Taher Ungkap Ucapan ‘Semua Burger Milik Allah’ yang Sesuai Konsep Tauhid dan Istikhlaf

Aldi Taher belakangan ini kembali menjadi sorotan publik. Melalui bisnis burgernya, Aldi’s Burger, ia memperkenalkan sebuah ungkapan yang menjadi viral: “Semua burger milik Allah.” Meskipun terdengar unik dan sedikit nyeleneh, pernyataan ini sejatinya mencerminkan prinsip-prinsip dasar dalam ajaran Islam.
Salah satu konsep penting dalam Islam adalah hakikat kepemilikan, atau yang dikenal sebagai Al-Mulku Lillah.
Menurut sumber terpercaya, dalam pandangan Islam, esensi utama adalah bahwa manusia tidak memiliki apapun secara absolut. Semua yang ada di alam semesta ini sejatinya adalah milik Sang Pencipta.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
لِلَّهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا فِيْهِنَّ ۗ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya, “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta segala yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ma’idah: 120)
Dengan demikian, segala sesuatu—mulai dari burger hingga harta dan jabatan—hanyalah titipan (amanah) dari Allah. Manusia berperan sebagai pengelola, yang dalam istilah Islam dikenal sebagai istikhlaf.
Berlanjut ke aspek kedua, yaitu hubungan antara usaha dan tanggung jawab, yang dikenal dengan istilah Al-Kasb.
Walaupun segala sesuatu merupakan milik Allah, manusia tetap diwajibkan untuk berusaha (ikhtiar). Dalam akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, terdapat pemahaman tentang Al-Kasb, di mana setiap individu bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya.
Dalam Al-Qur’an tercantum:
وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ
“Padahal Allahlah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. As-Saffat: 96)
Ayat ini menegaskan bahwa meskipun Allah yang menciptakan segala perbuatan, manusia tetap memiliki kebebasan untuk memilih tindakannya. Oleh karena itu, hasil dari usaha dalam berbisnis tetap menjadi tanggung jawab individu.
Selanjutnya, kita perlu memahami rahasia rezeki dan pentingnya tawakal dalam menjalani kehidupan.
Pesan yang terkandung dalam jargon ini mengingatkan kita untuk tidak terlalu terikat secara emosional pada hasil dari usaha kita. Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitabnya, Al-Hikam, mengingatkan kita dengan bijak:
اِجْتِهَادُكَ فِيْمَا ضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيْرُكَ فِيْمَا طُلِبَ مِنْكَ دَلِيْلٌ عَلَى انْطِمَاسِ الْبَصِيْرَةِ
“Kesungguhanmu pada sesuatu yang telah dijamin bagimu (rezeki), dan kelalaianmu pada apa yang dituntut darimu (ibadah), adalah tanda butanya mata hati.”
Rezeki telah ditentukan, dan yang diminta dari kita hanyalah usaha yang tulus dan jujur. Rasulullah SAW juga menjelaskan pentingnya tawakal dengan sabdanya:
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki.” (HR. Tirmidzi)
Dengan memahami hal ini, kita dapat melihat inti dari pesan “Semua Burger Milik Allah.” Pesan tersebut mengajak kita untuk menjalani usaha dengan penuh kesungguhan tanpa merasa memiliki secara mutlak. Dengan mentalitas ini, seorang Muslim dapat tetap tenang saat menghadapi kerugian dan tidak bersikap sombong ketika meraih keuntungan.
Pada akhirnya, semua yang kita miliki—baik itu nama, jabatan, maupun hubungan—adalah milik Allah. Oleh karena itu, mari kita saling berbuat baik dan menjaga sikap rendah hati dalam setiap aspek kehidupan.
➡️ Baca Juga: Perusahaan Swasta Dapat Menentukan Hari Pelaksanaan WFH Sesuai Kebijakan Menaker
➡️ Baca Juga: Vidi Aldiano Dijadwalkan Dimakamkan di TPU Tanah Kusir Hari Ini Pagi



