Harga Minyak Dunia Turun Drastis Setelah Trump Menunda Serangan ke Infrastruktur Energi Iran

Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan pada Senin, 23 Maret 2026, setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mendadak memutuskan untuk menunda serangan terhadap infrastruktur energi di Iran. Keputusan ini diambil meskipun sebelumnya Trump memberikan ultimatum 48 jam, dan beberapa saat kemudian ia mengklaim bahwa telah terjadi pembicaraan yang “sangat baik” dengan pihak Teheran.
Setelah pernyataan Trump di platform Truth Social, harga minyak mentah berjangka sempat merosot lebih dari 14 persen, meskipun kemudian mengalami pemulihan seiring dengan penyangkalan dari Iran mengenai adanya negosiasi tersebut.
Minyak Brent ditutup dengan penurunan 10,9 persen, mencapai level US$99,94 per barel, sementara harga West Texas Intermediate berkurang 10,3 persen menjadi US$88,13. Sam Stovall dari CFRA Research menilai bahwa penundaan serangan selama lima hari yang diumumkan Trump dapat memberikan peluang bagi pasar saham untuk pulih dalam waktu dekat.
Sebelumnya, pasar Asia dan Eropa dibuka dengan tekanan, namun pernyataan terbaru Trump yang keluar setelah penutupan perdagangan di Asia, berhasil mendorong penguatan di bursa Eropa dan Amerika Serikat.
Meskipun demikian, penguatan ini terhambat setelah media Iran membantah klaim Trump dan melaporkan bahwa tidak ada dialog yang terjadi antara Teheran dan Washington. Indeks FTSE 100 bahkan ditutup dengan penurunan karena tekanan yang berlanjut pada sektor energi dan pertahanan.
Di sisi lain, indeks utama Wall Street seperti S&P 500, Nasdaq Composite, dan Dow Jones Industrial Average menunjukkan penguatan, masing-masing meningkat lebih dari satu persen.
Neil Wilson, seorang ahli strategi di Saxo UK, menyatakan bahwa sangat sulit untuk memperdagangkan pasar pada kondisi saat ini, di mana Trump berulang kali beralih antara ancaman eskalasi dan pernyataan damai. Namun, pasar tampaknya optimis untuk saat ini karena kita tidak memasuki fase bahaya baru.
Stovall menambahkan bahwa dalam situasi yang penuh ketidakpastian seperti sekarang, para investor cenderung membuat keputusan berdasarkan asumsi daripada fakta yang jelas.
Kathleen Brooks, Direktur Riset di XTB, mengatakan bahwa jika pernyataan Trump benar-benar membuka jalan untuk resolusi konflik, “kita bisa melihat harga kembali ke US$90 per barel untuk Brent dalam beberapa hari ke depan.”
Namun, ia juga mengingatkan bahwa harga minyak tidak akan segera kembali ke level sebelum konflik, yang berada di bawah US$70 per barel, karena perbaikan infrastruktur energi di kawasan Teluk akan memakan waktu.
➡️ Baca Juga: Pelatihan Jurnalis: Meningkatkan Kualitas Berita
➡️ Baca Juga: Jadwal Salat Lengkap DKI Jakarta dan Sekitarnya untuk Selasa, 10 Maret 2026




