Pawai Ratusan Orang di Taipei Peringati Pemberontakan Tibet dan Ancaman China terhadap Taiwan

Sekitar 300 individu meramaikan pawai tahunan di Taipei pada hari Sabtu untuk memperingati Pemberontakan Tibet yang terjadi pada tahun 1959. Penyelenggara acara tersebut mengingatkan bahwa “ekspansi kekuasaan otoriter Tiongkok tidak akan terbatas pada satu lokasi saja.”
Pawai ini diadakan menjelang peringatan Hari Pemberontakan Tibet yang diperingati setiap tanggal 10 Maret. Hari tersebut menandai momen penting pada tahun 1959, ketika sekitar 10.000 warga Tibet berkumpul di Lhasa untuk menyuarakan protes terhadap penguatan kontrol Beijing atas wilayah mereka.
Ketua Yayasan Keagamaan Tibet, Yang Mulia Dalai Lama, Kelsang Gyaltsen Bawa, menekankan bahwa kisah Tibet merupakan pengingat yang signifikan bagi dunia, terutama bagi Taiwan.
“Kisah Tibet juga menjadi pengingat penting bagi dunia, khususnya Taiwan,” ujar Kelsang sebelum dimulainya pawai.
Ia menambahkan bahwa ekspansi kekuasaan otoriter tidak mengenal batasan wilayah. Menurutnya, pengaruh Beijing telah menyentuh berbagai daerah dan komunitas lainnya.
“Perluasan kekuasaan otoriter tidak akan berhenti di satu tempat,” ujarnya. Ia berpendapat bahwa pengaruh Tiongkok telah menjangkau Wilayah Uyghur, Mongolia Selatan, dan Hong Kong, melalui apa yang ia sebut sebagai “penindasan transnasional, infiltrasi front persatuan, dan yurisdiksi jarak jauh.”
Kelsang menegaskan bahwa konteks tersebut membuat peringatan Hari Pemberontakan Tibet di Taiwan menjadi sangat berarti, agar seruan dari pulau ini untuk mempertahankan martabat dan demokrasi rakyat Tibet dapat didengar di seluruh dunia.
Pemberontakan yang terjadi pada tahun 1959 berakhir dengan penindasan yang brutal. Peristiwa ini memaksa Dalai Lama untuk melarikan diri ke India, sementara sekitar 150.000 warga Tibet terpaksa mencari perlindungan di luar negeri, menurut data dari Jaringan Hak Asasi Manusia untuk Tibet dan Taiwan.
Sejak tahun 2004, komunitas Tibet yang tinggal di Taiwan, bersama berbagai organisasi masyarakat sipil, secara rutin menggelar pawai di Taipei setiap awal Maret untuk mengenang peristiwa tersebut.
Komisioner Komisi Hak Asasi Manusia Nasional Taiwan, Yeh Ta-hua, yang juga turut ambil bagian dalam pawai, menyatakan bahwa masyarakat Taiwan telah menyaksikan selama bertahun-tahun bagaimana rakyat Tibet berjuang untuk mempertahankan kebebasan mereka.
Yeh menambahkan bahwa selama 67 tahun terakhir, warga Tibet terus “dengan berani melawan” apa yang ia sebut sebagai “kekuasaan brutal” dari otoritas Tiongkok, sambil tetap menjaga kebebasan dan keyakinan mereka.
➡️ Baca Juga: Kasus Dugaan Penculikan Anak di Pasar Rebo Ditangani Polres
➡️ Baca Juga: Putri KW Tersingkir dari An Se Young di All England 2026, Indonesia Hanya Punya 1 Wakil Tersisa




