Menunda Mandi Junub Setelah Subuh di Bulan Ramadhan, Apakah Puasa Sah Menurut Buya Yahya?

Banyak umat Muslim yang masih merasa bingung mengenai hukum menunda mandi junub hingga setelah waktu Subuh selama bulan Ramadhan. Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah tindakan ini membuat puasa menjadi tidak sah ataukah tetap diperbolehkan menurut syariat Islam.
Ulama terkemuka Buya Yahya memberikan penjelasan yang mendalam untuk menghindari kesalahpahaman dalam melaksanakan ibadah puasa. Dalam penjelasannya, Buya Yahya terlebih dahulu mengklarifikasi waktu dimulainya puasa.
“Waktu berpuasa dimulai dari terbitnya fajar shadiq, yang menandakan masuknya waktu Subuh, hingga terbenamnya matahari. Jadi, ketika Subuh tiba, itu bukan hanya menunggu azan. Ada masjid yang mungkin mengumandangkan azan terlambat, sehingga azan bukanlah ukuran. Hakikat dari Subuh adalah terbitnya fajar shadiq, dan di saat itulah waktu puasa dimulai,” ungkap Buya Yahya dalam sebuah sesi di YouTube Al-Bahjah TV pada Rabu, 4 Maret 2026.
Buya Yahya menegaskan bahwa jika seseorang berhubungan suami istri di malam hari dan belum sempat mandi junub sampai waktu Subuh, puasanya tetap sah.
“Jika ada seseorang yang berhubungan suami istri di malam hari dan belum sempat mandi, kemudian waktu Subuh tiba, puasanya tetap sah. Yang tidak diperbolehkan adalah berhubungan suami istri setelah waktu Subuh masuk. Jadi, menunda mandi junub tidak berdampak pada sahnya puasa,” katanya.
Dari penjelasan yang diberikan, kita bisa memahami bahwa hal yang membatalkan puasa adalah aktivitas yang dilakukan setelah masuk waktu Subuh, bukan kondisi junub yang dialami. Dengan demikian, menunda mandi junub tidak akan membatalkan puasa.
Buya Yahya juga menekankan bahwa mandi besar tidak harus dilakukan segera setelah berhubungan suami istri di malam hari. Ini adalah informasi penting yang perlu diketahui, terutama oleh para wanita.
“Mandi besar bukan hanya terkait dengan puasa. Anda tidak perlu langsung mandi setelah berhubungan suami istri. Anda bisa menunggu hingga menjelang Subuh. Ini adalah pengetahuan yang perlu disebarkan, jadi tidak perlu terburu-buru untuk mandi,” jelasnya.
Menurut Buya Yahya, salah kaprah mengenai kewajiban mandi langsung sering kali membuat beberapa wanita enggan untuk memenuhi kebutuhan suami mereka. Mereka merasa harus mandi segera, yang mungkin menjadi masalah, terutama ketika cuaca dingin.
Dengan memahami penjelasan yang diberikan oleh Buya Yahya, umat Muslim dapat lebih tenang dalam menjalankan ibadah puasa tanpa merasa tertekan dengan kewajiban mandi junub yang harus dilakukan secepatnya.
Sebagai umat yang menjalankan ibadah puasa, penting untuk mengetahui bahwa kita tidak perlu merasa khawatir jika belum sempat mandi junub sebelum waktu Subuh. Yang terpenting adalah menjaga niat dan fokus pada ibadah selama bulan Ramadhan.
Penting bagi setiap Muslim untuk memahami bahwa menunda mandi junub tidak akan berpengaruh pada keabsahan puasa yang sedang dijalani. Dengan demikian, kita bisa lebih khusyuk dalam beribadah dan menjalani bulan suci ini dengan penuh rasa syukur.
Dengan penjelasan yang jelas dari Buya Yahya, diharapkan umat Muslim bisa lebih memahami hal-hal terkait puasa, termasuk masalah mandi junub, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman. Mari kita terus mendalami ilmu agama agar dapat menjalani ibadah dengan lebih baik dan benar.
Memahami hukum-hukum dalam agama adalah bagian penting dari ibadah kita. Dan dengan pengetahuan yang tepat, kita bisa menjalani puasa dengan lebih nyaman dan tidak terhalang oleh keraguan.
➡️ Baca Juga: Dampak Konflik Iran-AS-Israel Terhadap Atlet Anggar Timur Tengah yang Terjebak di Indonesia
➡️ Baca Juga: Memahami Kurikulum Merdeka: Tujuan dan Implementasinya
